Benar – benar seperti yang
kami baca dari blog, suasana yang tergambar disini persis yang diungkapkan di
blog. Udaranya masih sangat segar, kanan – kiri perkebunan teh yang hijau dan
menunggu siap untuk dipetik. Bangunan kantor peninggalan belanda masih berdiri
dengan kokoh dan memperlihatkan suasana yang sepi ketika sore. Wisma – wisma
untuk penginapan berjajar rapi di dekat pabrik. Suara penggilingan teh sudah
tidak terdengar karena prosesnya selesai pukul 13.00 dan kita sudah
ketinggalan. Serasa kita terbius dengan kenyamanan tempat ini sampai lupa
tujuan awal kita yaitu mencari tempat kos untuk kita tinggal selama sebulan.
“yak, rumah bu mamah yang mana
ya?”
“aku juga tidak tahu, mi emmmm
tanya aja yuk”
Kita melihat seorang bapak –
bapak tinggi tegap sedang berada di pos penjagaan
“permisi pak mau tanya?”
“mangga atuh neng”
“mau tanya rumah bu mamah”
“oh, bu mamah,. Mau PKL disini
yak, mari saya antar”
Senangnya, bapak ini sangat
ramah bahkan bersedia mengantar kami ke rumah bu mamah, sensasi berikutnya
adalah ojek bertiga. Aku, Fiya dan pak Maman dalam satu montor, dengan medan
yang menanjak dan menurun benar – benar berasa sensasi naek montor. Aku hanya
bisa teriak – teriak dalam hati tapi ini benar – benar seru. Sampailah kita di
depan rumah bu mamah, dengan logat sundanya pak Maman berbicara dengan bu mamah
dan mencoba menerengkan maksud kedatangan kami. Pak maman mengantar kami sampai
masuk di dalam dan menemani kami bernegosiasi tentang biaya sewa. “deal” akhirnya
kita dapet tempat kos dengan biaya yang cukup murah dan fasilitas yang sangat
lengkap dan nyaman. Kami berpamitan kepada ibu kos dan akan datang kembali 1
bulan yang akan datang. Sebagai ucapan terimakasih kami kepada pak maman, aku
memberikan uang 20ribu mungkin ini tidak akan membayar segala keramahan yang
beliau berikan. Kita berdua memutuskan untuk pulang dan akan kembali lagi
kesini 1 bulan lagi.

ini bu mamah yang tengah sama cucunya serina, dari kanan ufi, umi., ageng, fiya dan popon
Akhir januari 2010 sesuai rencana kita berangkat ke
Bandung lagi untuk kerja praktek selama 1 bulan. Sampailah kita ditempat kos,
kita disambut dengan sangat ramah oleh pemilik kos dan sudah dijamu dengan
makanan yang sudah tersedia di meja makan. Wah sungguh memuaskan saya bisa kos
disini. Tempat berikutnya yang menjadi sasaran adalah kamar, kita sudah sangat
capek dan siap untuk beristirahat. Agenda pertama untuk besok adalah jalan –
jalan pagi, kita keluar kos dan berjalan menuju ke kantor dimana kita akan
kerja praktek. Barang yang tak boleh ketinggalan adalah kamera. Rugi sekali
jalan – jalan tanpa kamera, baru berjalan setengah jam sudah ada pemandangan
yang menarik mata yaitu penjual kue balok. Bau kue ini sangat menggoda,
beberapa langkah kemudian ada penjual batagor. Mang batagornya ramah sekali,
dan jangan salah dengan rasa batagor yang tidak kalah dengan restoran harganya
pun membuat kita tercengang karena begitu murah. Wisata kulinernya kita
lanjutkan besok jangan sampai agenda jalan – jalan ke pabrik berantakan. Awal
datang ke pabrik, kita baru tahu 1 rute jalan dan jalan ini cukup panjang jika
dilalui dengan berjalan kaki, sebenarnya di depan pintu gerbang masuk ada
banyak tukang ojek yang siap mengantar kita ke pabrik dengan skali angkut
adalah 2ribu perak. Bayangkan hidup disini benar – benar sangat murah dan tidak
terlalu menguras kantong. Tapi namanya juga jalan – jalan masak mau naek ojek
jadinya nanti ngojek – ngojek. Oke 20 menit berjalan dari pintu gerbang ke
pabrik cukup lama yaa, berarti kita harus cari rute yang lebih cepat dan tidak
terlalu menanjak. Hari ini tidak ada pemetik teh, kantor tutup dan hanya pabrik
yang beroperasi. Dari jalan sudah terdengar suara mesin penggulung teh yang
sedang beroperasi. Kita berlima lebih tertarik lagi dengan bangunan puluhan
tahun yang tampak masih berdiri kokoh dengan beberapa bagian dinding ruangan
ada yang retak akibat dari gempa yang terjadi beberapa tahun yang lalu.
Bangunan ini benar – benar menarik perhatian kami, sekilas desainnya tampak
seperti bangunan sekolah jaman dulu ada beberapa banguanan yang letaknya terpisah dari bangunan utama ini
dikarenakan kondisi geografis dari tanahnya yang agak berundak.

foto - foto di jalan menuju puslit pabrik
noohhhhh ada tulisannya berarti ga hoax kan hee hee
ini mamang batagornya
yang pake kaos hitam "pak ndang" mandor besar pabrik
Tepat dibagian depan bangunan ini terdapat kolam yang
lumayan lebar dengan beberapa penghuni seperti katak dan ikan membuat suasana
semakin nyaman. Disini sering turun kabut apalagi ketika musim hujan karena
tempat ini berbatasan langsung dengan pegunungan Tilu. Kami mulai memasuki
lobby ruangan benar – benar sepi karena hari ini adalah hari minggu dan sudah
dapat dipastikan tidak ada pegawai yang datang. Kami memutuskan untuk kembali
lagi ke kos dan menyudahi jalan – jalan pagi, ketika di jalan kami selalu
meluangkan waktu untuk berfoto – foto ria dan tidak mau melewatkan setiap sudut
keindahan yang disajikan sepanjang jalan menuju puslit gambung.
ni kolam di depan kantor puslit
Hari pertama kerja praktek, kami berlima sangat
bersemangat untuk segera menuju tempat kerja praktek dan tak lupa kita
berpamitan dengan bu mamah sang pemilik kos.
“buk, berangkat dulu ya”
sambil mengantri untuk bersalaman dengan bu mamah.
“iya neng, hati – hati,..
lewat hutan aja biar cepat”dengan wajah keibuannya
“hutan, rutenya dari sini ke
mana buk” aku sedikit menyela
“ni lurus aja, habis gerbang
ambil ke arah rupin nanti lewat SD Awa dan Io”
Awa dan Io adalah cucu dari bu
mamah yang begitu lucu dan agak pemalu,
mungkin karena baru bertemu dengan kami. Rute sudah kita pilih yaitu lewat
hutan. Rasa penasaran sangat menghantui kami, “ayo berangkat, semangat –
semangat”.
cucu bu mamah, serina, awa, Io uhhh bkin kangen
fiya, serina, umi, awa, popon dan Io
kalian bikin mba kangen uuuuuhhhhhh :'(
lucu banget :-)
Sebagai warga jogja kita tetap menjunjung tinggi keramah
tamahan jadi kita sudah sedikit belajar bahasa sunda untuk menyapa orang –
orang yang kita temui. Orang yang akan mendengar bahasa sunda kita yang pertama
adalah tetangga samping kos.
“punten teh” kami berlima
sangat kompak ditambah dengan seyum lebar.
“mangga atuh neng, ke pabrik?”
tanya ibu – ibu
“iya teh”
Kami langsung berlalu dan
terus berjalan, tak lupa kita sudah memasang stopwatch pada hp kita untuk
mengetahui berapa waktu yang kita butuhkan dengan melewati rute hutan. Di
belokan dekat gerbang masuk kita bertemu lagi dengan mamang yang jualan batagor
ditemani seekor kambing. Kami menyapa mamang tersebut dan sambil berhenti
“punten mang”
“berangkat neng? Ke pabrik,
PKL ya?” tanya mamang penasaran
“iya mang” jawab popon
“nanti mamang juga jualan di
pabrik kok, nanti mampir jajan ya”
“siap atuh mang” dengan logat
sunda kami berlima menjawab
“ni kambing mamang?” kami
penasaran
“bukan, ini mah kambing hutan
yang suka turun buat cari makan dan ga ada yang berani pelihara tapi kambing
ini jinak banget”
Wow kami benar – benar tambah
kagum dengan orang – orang disini yang tetap menjaga flora fauna yang ada dan
dilindungi disini.
Eits, obrolan langsung kita hentikan dan kita melanjutkan
perjalanan yang masih jauh. Dari pintu gerbang kita ambil arah kekiri dan yang
menjadi petunjuk pertama adalah rumah pintar. Disini memang ada rumah pintar
yang digagas oleh Alya yaitu putri dari Hatta Rajasa dan diresmikan oleh
perkumpulan ibu – ibu menteri. Benar – benar dua keuntungan besar dengan adanya
rumah pintar ini, yang pertama anak – anak mempunyai tempat bermain baru
sekaligus tempat belajar yang bagus, yang kedua dengan diresmikan oleh para ibu
– ibu menteri membuat jalan akses utama menuju Gambung menjadi halus dan mulus.
Petunjuk pertama sudah kita lewati yang kedua adalah SD Cisondari, jalanannya
cukup menanjak. Di samping kiri jalan terlihat mess atau rumah pegawai pabrik
dengan jumlah yang banyak dan mempunyai ukuran yang hampir sama. Kita sudah
sampai di SD Cisondari, di depan SD sudah banyak penjualan makanan yang siap
menjajakan dagangan mereka.
“Kita harus coba semua jajanan
disini kapan – kapan” kataku kepada teman – teman yang lain
“S-E-T-U-J-U” kompak menjawab
Memang kalau sudah urusan
dengan perut tidak perlu berlama- lama untuk bermusyawarah.
Hamparan kebun teh sudah terlihat di depan mata, kita
akan lewat di tengah rimbunan tanaman teh yang begitu hijau. Ada jalan setapak
yang hanya bisa dilewati satu orang, oke kita berbaris rapi untuk memulai
memasuki kebun teh.
“Foto” teriak ageng sambil
mengeluarkan kamera
Langsung kita menyiapkan gaya yang
maksimal untuk berfoto, ada pose di balik rerimbunan tanamn teh, pose
membentangkan tangan sambil menikmati sejuknya udara dan ada pose- pose khas
gaya anak alay. Perjalanan kembali dilanjutkan, rimbunan pohon tinggi sudah
terlihat di depan mata. Barisan masih tetap rapi dan tanpa adanya pemandu,
sudah berasa anggota outbond saja. Sepertinya tadi malam hujan deras, itu
terlihat jelas dari jalan yang kami lalui agak becek dan menggenang.
“hati – hati licin” teriak
fiya yang berjalan paling depan
“oke mba fi”
Sepanjang perjalanan di hutan
kita disuguhi pemandangan yang tidak asing, ini seperti di Kali Adem
Cangkringan. Pohon yang besar dan tinggi menjulang, suara kicauan burung, bunga
– bunga liar yang berwarna – warni semakin menambah keindahan panorama hutan
ini. Suara gemericik air terdengar samar – samar, semakin lama semakin jelas
terdengar. Terlihat di depan ada aliran air membentuk sungai kecil yang sangat
jernih airnya, air ini mengalir ke bawah tebing. Cukup membuat kita harus hati
– hati karena kondisi jalan yang licin dan samping kanan kami adalah tebing
yang cukup dalam.
segarnya,... jadi pengen kesana lagi
nampang terus pokoknya haa haa
tetap bergaya haa haa haa
bersambung lagi,....